Sabtu, 26 Agustus 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 57

57. "JANGAN MENINGGALKAN DZIKIR"

57. "Jangan meninggalkan dzikir, karena engkau belum bisa selalu ingat kepada Alloh di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Alloh ketika tidak berdzikir itu lebih berbahaya dari pada kelalaianmu terhadap Alloh ketika kamu berdzikir."

Semoga Alloh menaikkan derajatmu dari dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat terhadap Alloh, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat, kepada dzikir yang disertai rasa hadir, dan dari dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Alloh.

Dan yang demikian itu bagi Alloh tidak berat [tidak sulit].

Empat keadaan yang berkaitan dengan dzikir :

1: Berdzikir dalam keadaan hati tidak ingat kepada Alloh.

2: Berdzikir dalam keadaan hati yang ingat kepada Alloh.

3: Berdzikir dengan disertai rasa kehadiran Alloh di dalam hati.

4: Berdzikir dalam keadaan fana' dari makhluk, lenyap segala sesuatu dari hati, hanya Alloh saja yang ada.

Seorang salik tidak boleh meninggalkan Dzikir, disebabkan karena hatinya belum bisa ingat/menghadap kepada Alloh.

Akan tetapi ia harus tetap selalu berdzikir walaupun hatinya masih belum bisa khudhur.

Karena orang yang meninggalkan dzikir itu jauh dengan Alloh hati dan lisannya.

Berbeda dengan orang yang mau berdzikir, meskipun hatinya masih jauh dengan Alloh karena belum bisa mengingat Alloh waktu berdzikir, tapi lisannya dekat dengan Alloh.

Karena tidaklah sulit bagi Alloh untuk mengubah suasana hati hamba-Nya yang berdzikir dari suasana yang kurang baik kepada yang lebih baik hingga mencapai yang terbaik.

Menaikkan satu tingkat [derajat] kelain tingkat [derajat], dzikir adalah satu-satunya jalan yang terdekat menuju kepada Alloh, bahkan sangat mudah dan ringan.

Abu Qasim al-Qusyairy berkata :

"Dzikir itu simbol wilayah [kewalian], dan pelita penerangan untuk sampai, dan tanda sehatnya permulaannya, dan menunjukkan jernihnya akhir puncaknya, dan tiada suatu amal yang menyamai dzikir, sebab segala amal perbuatan itu ditujukan untuk berdzikir, maka dzikir itu bagaikan jiwa dari segala amal.
Sedang kelebihan dzikir dan keutamaannya tidak dapat dibatasi".

Allah berfirman :

"Berdzikirlah [ingatlah] kamu kepada-ku, niscaya Aku berdzikir [ingat] kepadamu." [QS. Al-Baqorah 152 ].

Dalam hadits Qudsi, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda, Alloh 'Azza wa Jalla berfirman :

"Aku selalu mengikuti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir [mengingat] dalam dirinya. Aku pun berdzikir padanya dalam dzat-Ku dan jika ia berdzikir pada-Ku di keramaian, maka Aku pun berdzikir padanya dalam keramaian yang lebih baik dari pada kelompoknya, dan jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya berjalan cepat."

Abdullah bin Abbas rodhiyallohu 'anhu berkata :

"Tidak ada suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Alloh pada hamba-Nya melainkan ada batas-batasnya, kemudian bagi orang-orang yang berudzur dimaafkan jika ia tidak dapat melakukannya, kecuali dzikir, maka tidak ada batas dan tidak ada udzur yang dapat diterima untuk tidak berdzikir, kecuali jika berubah akal [gila].

Alloh berfirman:

"... Bagi orang-orang yang mempunyai pikiran [sempurna akal]. Yang selalu berdzikir [mengingat] Alloh sambil berdiri, duduk dan berbaring." [QS. Ali-Imran 190-191].

Firman Allah :

"Wahai orang-orang yang beriman, Berdzikirlah [ingatlah] kamu kepada Alloh dengan dzikir sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
Yakni pagi, siang, sore, malam, di darat, di laut, di udara, dalam perjalanan [musafir] berdiam diri pada semua tempat dan waktu, bagi yang kaya, miskin, sehat, sakit, terang-terangan atau sembunyi dengan lisan atau hati dan pada tiap keadaan.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 57
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Jumat, 25 Agustus 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 56

56. "KEDUDUKAN AMAL, AHWAL DAN MAQOM INZAL"

56. "Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya Ahwal, dan baiknya Ahwal itu sebagai hasil dari kesungguhan istiqamah pada maqom inzaal (apa yang diperintah oleh Allah."

Hikmah yang lalu mengaitkan nilai amal dengan zuhud hati terhadap dunia.

Hati yang menerima cahaya Nur Ilahi akan mendapat pengalaman kerohanian yang dinamakan ahwal (hal-hal).

Ahwal yang menetap pada hati dinamakan maqom.

Maqom Inzal yaitu :

Pengetahuan/ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan Alloh, yang oleh Alloh diberikan kepada hati hambanya, supaya hamba tidak mengaku-aku, tidak karena surga atau takut neraka.
Jadi baiknya Amal itu muncul dari baiknya Ahwal, baiknya Ahwal itu muncul dari maqom inzal/ ilmu yang diberikan oleh Alloh.

Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Alloh, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya.

Al-Ghozali berkata :

"Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan Hal [perasaan] dan amal perbuatan;

Ilmu-yaqin [keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran].

Ainul-yaqin [keyakinan yang didapat dari fakta-fakta lahir setelah terungkap/terbuka].

Haqqul-yaqin [keyakinan yang benar-benar langsung dari Alloh, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang hakiki.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 56
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Rabu, 23 Agustus 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 55

55. "ZAHID DAN ROGHIB"

55. "Tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yang dilakukan dengan hati yang zuhud ,dan tidak dapat dianggap banyak amal yang dilakukan oleh seseorang yang cinta dunia."

Kita telah diajarkan keluar dari alam kepada Pencipta alam, berhijrah kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Kita diajar supaya memilih sahabat yang dapat membangkitkan semangat untuk berjuang pada jalan Alloh dan berbuat taat kepada-Nya.

Hikmah 55 ini memberi gambaran apakah hijrah rohani itu akan berhasil atau gagal.

Alat untuk menilainya ialah dunia.

Bagaimana kedudukan dunia di dalam hati akan mempengaruhi perjalanan kerohanian.

Ukuran amal itu menurut hati orang yang beramal, apabila amal itu dilakukan orang yang zuhud (hatinya tidak tergantung pada dunia), walaupun kelihatan sedikit akan tetapi hakikatnya banyak.

Karena zahid itu amalnya bisa selamat dari penyakit yang menjadikan amalnya tertolak, seperti riya’ mencari kepentingan dunia, tidak karena Alloh, dlln.

Sebaliknya amal orang yang roghib (cinta/rakus dunia) amalnya tidak selamat dari penyakit-penyakit yang tersebut.

Ali bin Abi Thalib karromalloh wajhah berkata :

"Tumpahkan semua hasrat keinginanmu itu kepada usaha untuk diterimanya amal perbuatanmu, sebab tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yang diterima oleh Alloh."

Allah berfirman :

"Innamaa yataqobbalu -llohu minal-muttaqiina"

[Sesungguhnya Alloh hanya menerima amal perbuatan dari orang yang bertakwa]

Ikhlas baginya, dan tepat menurut ajaran-Nya.

Abdulloh bin Mas'ud rodhiyallohu 'anhu berkata :

"Dua rokaat yang dilakukan oleh seorang alim yang mengerti dan ikhlas [tidak tamak/rakus kepada dunia], lebih baik dari ibadah orang-orang ahli ibadah sepanjang masa tapi masih cinta dunia."

Abu Sulaiman ad-Darony bertanya kepada Ma'ruf al-Karkhi :

"Mengapakah orang-orang itu kuat taat sampai sedemikian rupa banyaknya?

Jawabnya :

'Karena mereka telah membersihkan hati mereka dari pada cinta dunia, andaikata masih ada sedikit cinta dunia, tidak akan diterima dari mereka amal perbuatan itu'."

Seorang sholeh mengeluh kepada Abu Abdillah al-Qurosyi, bahwa ia telah berbuat berbagai amal kebaikan, tetapi belum bisa merasakan kelezatan amal kebaikan itu dalam hatinya.

Jawab Abu Abdullah al-Qurosy :

''Karena engkau masih memelihara puteri iblis, yaitu kesenangan dunia, dan lazimnya seorang ayah itu selalu berziarah kepada puterinya.''

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 55
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 53-54

53-54. "MEMILIH SAHABAT"

53. "Jangan bersahabat dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Alloh, prilakunya dan tidak memimpin engkau kejalan Alloh apa yang dikatakannya."

Dalam hadits :

"Seseorang akan mengikuti pendirian [kelakuan] temannya, maka lihatlah saudaramu dengan siapakah harus didekati sebagai teman."

Sufyan Astsaury berkata :

"Barangsiapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan barangsiapa mengikuti mereka, harus menjilat pada mereka, dan barangsiapa yang menjilat kepada mereka, maka ia binasa seperti mereka."

Sahl bin Abdullah berkata :

"Berhati-hatilah [jangan] bersahabat dengan tiga macam manusia :

1. Pejabat pemerintah yang dzalim [kejam].
2. Ahli quraa' yang pejilat.
3. Sufi gadungan [yang bodoh tentang hakikat tasawuf].

Ali bin Abi Thalib karramullah wajhah berkata :

"Sejahat-jahat teman yang memaksa engkau bermuka-muka [menjilat] dan memaksa engkau minta maaf, atau selalu mencari alasan."

54. "Terkadang engkau berbuat kekeliruan [dosa], maka ditampakkan kepadamu sebagai kebaikan, oleh karena persahabatanmu kepada orang yang jauh lebih rendah akhlaknya [Iman] dari padamu."

Bersahabat dengan yang lebih rendah budi pekerti [iman] -nya itu, sangat berbahaya.

Sebab persahabatan itu pengaruh mempengaruhi.

Percaya mempercayai, sehingga dengan demikian sulit sekali untuk dapat melihat atau mengoreksi kesalahan sahabat yang kita sayangi.

Bahkan kesetiaan sahabat akan membela kita dalam kekeliruan, kesalahan dan dosa, yang dengan itu kamu pasti akan binasa karenanya.

Sedangkan seseorang tidak dapat mengoreksi diri sendiri, kecuali dengan kacamata orang lain.


Tetapi jika justru kacamata orang lain itu pula mengelabui kita, maka bahayalah yang pasti menimpa kepada kita.


TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 53-54
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 51-52

51-52. "PINDAHLAH DARI ALAM (MAKHLUK) KEPADA PENCIPTA ALAM"

51. "Jangan berpindah dari satu alam (makhluk) ke alam (makhluk) yang lain, berarti sama dengan himar [keledai] yang berputar di sekitar penggilingan, ia berjalan menuju ke tempat tujuan, tiba-tiba itu pula tempat yang ia mula-mula berjalan dari padanya, tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam menuju kepada pencipta alam; Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan."

Keadaan orang yang tidak dapat melepaskan dirinya dari syirik adalah umpama seekor keledai yang terikat dan berputar menggerakkan batu penggiling.

Walaupun jauh jarak yang dijalaninya namun, dia sentiasa kembali ke tempat yang sama.

Jika ia mau bebas perlulah ia melepaskan ikatannya dan keluar dari bulatan yang sempit.

Orang yang mau membebaskan dirinya dari syirik secara keseluruhan, hendaklah membebaskan perhatian hatinya dari semua perkara kecuali Allah.

Keluar dari bulatan alam dan masuk kepada Wujud Mutlak.

Jangan berpindah dari syirik yang terang ke alam syirik yang samar.

Amal kebaikan yang di nodai oleh riya', sum'ah [mengharap pujian orang], tidak dianggap oleh syari'ah [tidak di terima oleh Alloh].

Dan apabila telah bersih dari semua itu, kemudian beramal karena terdorong oleh menginginkan kedudukan atau kekayaan atau karamah dunia atau akhirat, semua itu masih termasuk alam hawa nafsu, dan belum mencapai tujuan ikhlas yang bersih dari segala tujuan selain hanya kepada Allah, yakni tanpa pamrih.

Karena itu selama berpindah dari alam ke alam tidak berbeda, bagaikan keledai yang berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari alam ini, langsung menuju kepada pencipta alam.

Karena itu Nabi Isa 'alaihihissalam pernah berkata kepada sahabat hawariyyin :

"Semua yang ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari karunia Alloh kepadamu, maka manakah kiranya yang lebih besar harganya [nilainya]?
Apakah pemberiannya ataukah yang memberi?."

''Wa Inna ila Rabbikal-muntaha''

Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan.

Sebab barangsiapa yang telah mendapatkan Alloh, berarti telah mencapai segala sesuatu, baik urusan dunia mau pun urusan akhirat.

52. "Dan perhatikan sabda Nabi shollallohu 'alaihi wasallam: 'Maka barangsiapa yang berhijrah menuju kepada Alloh dan Rosul-Nya [menurut perintah Alloh dan Rosul-Nya], maka hijrahnya akan diterima oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena kekayaan dunia, dia akan mendapatkannya, atau karena perempuan akan dinikahi, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia hijrah kepadanya. Camkanlah sabda Nabi shollallohu 'alaihi wasallam ini dan perhatikanlah persoalan ini jika engkau mempunyai kecerdasan faham."

Hikmah ini adalah lanjutan dari Kalam Hikmah yang lalu.

Keluar dari satu hal kepada hal yang lain adalah hijrah juga namanya.

Dan yang utama dalam hadits ini ialah sabda Nabi shollallohu 'alaihi wasallam, bahwa hijrah yang tidak dengan niat ikhlas kepada Alloh akan terhenti pada tujuan yang sangat rendah dan tidak berarti, dan tidak akan mencapai keridhaan Alloh.

Seseorang minta nasehat kepada Abu Yazid al-Busthami, maka berkata Abu Yazid :
'Jika Alloh menawarkan kepadamu akan diberi kekayaan dari Arsy sampai ke bumi, maka katakanlah, Bukan itu ya Alloh, tetapi hanya Engkau ya Alloh tujuanku'.

Abu Sulaiman ad-Darani berkata :
"Andaikan aku di suruh memilih antara masuk surga Jannatul-Firdaus dengan shalat dua rakaat, niscaya saya pilih shalat dua rakaat.
Sebab di dalam surga, saya dengan bagianku, dan dalam shalat aku dengan Tuhanku."

Asy-Syibli rodhiallohu 'anhu berkata :
"Berhati-hatilah dari ujian Alloh, walaupun dalam perintah, “Kulu wasyarabu” [makan dan minumlah].
Sebab dalam pemberian nikmat itu ada ujian untuk diketahui, siapakah yang silau dan lupa kepada-Nya setelah menerima nikmat, dan siapa yang tetap pada-Nya sebelum dan sesudah menerima nikmat".

Seorang penyair berkata :

"Dia shalat dan puasa karena sesuatu yang diharapkan, sehingga setelah tercapai urusannya, dia tidak shalat dan puasa ."

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 51-52
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 50

50. "ANEH DAN AJAIB"

50. "Keanehan yang sangat mengherankan [ajaib] terhadap orang yang lari dari Alloh yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas dari padanya. dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah mata hati yang di dalam dada."

Hikmah 45, menceritakan tentang tingkatan makrifat yang dicapai melalui penyaksian mata hati.
Makrifat melalui mata hati diperoleh dengan cara bertauhid.

Hikmah 46, menggambarkan tentang tauhid yang tertinggi.
Tingkatan yang tertinggi itu tidak mudah dicapai.
Jalan untuk mencapainya adalah dengan menghapuskan semua jenis syirik, yang lahir dan yang batin/samar.

Hikmah 47 hingga 49 menceritakan tentang syirik yang samar, yaitu hati bukan bergantung kepada Allah saja tetapi pada makhluk yang sama, ia juga berharap kepada makhluk, lantaran kurang keyakinannya kepada Alloh, atau karena menyangka makhluk bisa melakukan sesuatu yang memberi bekas kepada perjalanan takdir Ilahi.

Syirik yang demikian dirumuskan oleh Hikmah 50 ini dengan mengatakan bahawa itu semua terjadi akibat buta mata hati.

Sekiranya mata hati dapat melihat tentu dilihatnya bahwa dalam
keadaan apa saja dia tidak terlepas dari qudrat dan Iradat Alloh s.w.t.

Dia tidak akan dapat melepaskan dirinya dari Alloh s.w.t.

Alloh mempunyai segala sifat-sifat iftiqar yang menyebabkan semua makhluk-Nya tidak ada jalan melainkan bergantung kepada-Nya.

Seorang yang melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk beribadah semata-mata karena ingin memuaskan hawa nafsu dan syahwatnya, suatu fakta butanya mata hatinya, sebab ia telah mengutamakan bayangan dari pada hakikat, mengutamakan yang sementara dan meninggalkan keabadian, mengutamakan yang dapat binasa dari pada yang tetap kekal untuk selama-lamanya.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 50
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 49

49. "HUSNUD-DHON TERHADAP ALLOH"

49. "Jika engkau tidak bisa berbaik sangka [husnud-dhon] terhadap Alloh Ta'ala karena sifat-sifat Alloh yang baik itu, berbaik sangkalah kepada Alloh karena karunia pemberian-Nya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?"

Manusia dalam hal husnud-dhon kepada Alloh itu ada dua golongan :

1. Golongan khos-shoh.

Yaitu orang yang berhusnud-dhon kepada Alloh karena melihat sifat-sifat Alloh yang bagus dan tinggi.

2. ‘Ammah.

Yaitu orang yang berhusnud-dhon kepada Alloh karena macam-macamnya nikmat Alloh dan anugerah dari Alloh yang tidak bisa terhitung.

Apabila engkau tidak dapat berbaik sangka terhadap Allah, karena Allah itu bersifat :

Rabbul Alamiin [Tuhan yang mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam, Ar-Rahman, Ar-Rahim : Pemurah, Penyayang].

Maka sudah selayaknya engkau harus berbaik sangka kepada Allah, karena tiada henti-hentinya nikmat dan karunia Allah atas dirimu dan anak keluargamu.

Yakni sejak engkau berupa sperma hingga matimu.

Dan sebaik-baik khusnud-dhon [baik sangka] terhadap Allah diwaktu menerima nikmat Allah yang berupa ujian [musibah], bagaikan ayah yang menyambut anak yang disayang, demi untuk kebaikan anak itu sendiri.

Allah berfirman :

"Dan mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu." [QS. al-Baqarah 216].
"
Maka mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, sedang Allah telah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS. An-Nisaa 19].

Jabir radhiayallahu 'anhu berkata :

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

'Barangsiapa yang dapat melakukan khusnud-dhon [baik sangka] kepada Allah, sehingga ia tidak akan mati kecuali tetap dalam khusnudz-dzon terhadap Allah, maka hendaklah ia melakukannya' ."

Kemudian ia membaca ayat :

"Dan itulah persangkaan kamu yang kamu sangkakan terhadap Tuhan kamu, yang telah menjerumuskan kamu, hingga membinasakan kamu." [QS. Fussilat 23].

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah itu, sebaik-sebaik melakukan ibadah kepada Allah."
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bersumpah:

"Demi Allah tidak ada orang yang berbaik sangka terhadap Allah, melainkan pasti Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia sangka, sebab kebaikan itu semuanya di tangan Allah, maka apabila Allah telah memberi khusnud-dhon, berarti Allah akan memberi apa yang disangkanya itu. Maka Allah yang memberinya khusnud-dhon [baik sangka] berarti akan melaksanakannya."

Abu Said al-Khudry radhiyallahu 'anhu berkata :

"Rasululloh shollallohu 'alaihi wasallam menjenguk orang sakit, maka Rasulullah bertanya kepada orang yang sakit itu,
'Bagaimanakah persangkaanmu terhadap Tuhanmu? '

Jawabnya :

'Wahai Rasulullah, aku khusnud-dhon [baik sangka]'.

Maka bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :

'Sangkalah sesukamu kepada Allah, maka Allah selalu akan memberi apa yang disangkakan oleh orang mukmin'."

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 49
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 48

48. "JANGAN MENGADU KEPADA SELAIN ALLOH"

48. "Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan/hajat selain kepada Alloh, sebab Ia sendiri yang memberi dan menurunkan kebutuhan itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Alloh akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Alloh. Barangsiapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah ia akan dapat menyingkirkan bencana yang ada pada orang lain."

Adanya sesuatu bencana [musibah] itu menyebabkan engkau berhajat [butuh] kepada bantuan [pertolongan], maka dalam tiap kebutuhan [hajat] jangan mengharap selain kepada Alloh, sebab segala sesuatu selain Alloh itu juga berhajat seperti engkau.

Sebab barangsiapa yang menyandarkan [menggantungkan nasib] pada sesuatu selain Alloh, berarti ia tertipu oleh sesuatu bayangan fatamorgana, sebab tidak ada yang tetap selain Alloh yang selalu tetap karunia dan nikmat serta rahmat-nya kepadamu.

Syeikh Atho' al-Khurasani berkata:

" Saya bertemu dengan Wahb bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata, 'Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang dapat saya ingat, tetapi persingkatlah'.

Maka berkata Wahb, “Alloh telah mewahyukan kepada Nabi Dawud 'alaihissalam:

Wahai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidak ada seorang hamba-Ku yang minta tolong kepada-Ku, tidak pada selainnya, dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan ditipu oleh penduduk langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, melainkan pasti Aku akan menghindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidak ada seorang yang berlindung kepada seorang makhluk-Ku, tidak kepada-Ku dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya, melainkan Aku putuskan rahmat yang dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku pedulikan dalam lembah dan jurang yang mana ia binasa."

Syeih Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata:

"Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seorang yang duduk disampingku, 'Siapakah namamu?'
Jawabnya : 'Said'.
Saya bertanya : 'Siapakah gelarmu?'
Jawabnya : 'Abu Usman'.

Lalu saya bertanya tentang keadaannya.
Jawabnya : 'Kini telah habis belanjaku.
Lalu saya tanya : 'Dan siapakah yang engkau harapkan untuk kebutuhanmu itu?'

Jawabnya : 'Yazid bin Harun.

Maka saya berkata kepadanya, 'Jika demikian, maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu meringankan kebutuhanmu'.

Dia bertanya : 'Dari mana engkau mengetahui hal itu?'

Jawabku : 'Saya telah membaca dalam sebuah kitab:

Bahwasanya Alloh telah berfiman:

Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, dan kemurahan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, di atas Arsy.
Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan, dan akan Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, dan Aku putuskan dari hubungan-Ku.
Mengapa ia berharap selain Aku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tangan-Ku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharap kepada selain Aku serta mengetuk pintu lain padahal kunci pintu-pintu itu tertutup, hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa yang berdoa kepada-Ku.
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalaukan kesukarannya lalu Aku kecewakan?
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya?
Atau siapakah yang pernah mengetuk pintu-Ku, lalu Aku tidak bukakan?
Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara-Ku dengan angan-angan dan harapan semua makhluk-Ku, maka mengapakah engkau bersandar kepada selain-Ku.
Dan Aku telah menyediakan semua harapan hamba-Ku, tetapi tidak puas dengan perlindungan-Ku, dan Aku telah memenuhi langit-Ku dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepada-Ku dari para Malaikat, dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara-Ku dengan para hamba-Ku, tetapi mereka tidak percaya kepada firman-Ku.
Tidakkah engkau mengetahui bahwa barangsiapa yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tidak ada dapat menyingkirkan selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan-angan dan harapannya selalu berpaling dari pada-Ku, mengapakah ia tertipu oleh selain-Ku.
Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahan-Ku apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepada-Ku untuk mengembalikannya, dan ia minta kepada selain-Ku.
Apakah Aku yang memberi sebelum di minta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi kepada peminta?

Apakah Aku bakhil [kikir], sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku.
Tidakkah dunia dan akhirat itu semua milik-Ku?
Tidakkah semua rahmat dan karunia itu di tangan-Ku?
Tidakkah dermawan dan kemurahan itu sifat-Ku?
Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan?
Maka siapakah yang dapat memutuskan dari pada-Ku.
Dan apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang mengharap, andai kata Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi :
Mintalah kepada-Ku, kemudian Aku memberi kepada masing-masing orang pikiran apa yang terpikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku walau pun sekecil debu?

Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya?

Alangkah sial [celaka] orang yang putus dari rahmat-Ku, alangkah kecewa orang yang maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yang haram dan tiada malu kepada-Ku'.

Maka orang itu berkata :

'Ulangilah keteranganmu itu, lalu ia menulisnya'.

Kemudian ia berkata :

“Demi Alloh, setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yang lain'.”

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 48
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 47

47. "AL-KARIM TUMPUAN SEGALA HAJAT"

47. "Jangan melampaui/melanggar niat dan tujuanmu [hasrat dan harapanmu] kepada lain-Nya. Maka Tuhan yang maha pemurah itu tidak dapat di lampaui oleh sesuatu harapan (angan-angan)hamba.''

Sebaiknya bagi orang yang mengharapkan berhasil hajatnya, jangan meminta kapada selain Alloh (makhluk), karena itu bertentangan dengan sifat ‘ubudiyyah.

Itu kalau permintaan itu disandarkan/bergantung pada makhluk, dan lupa pada Alloh ketika berdo’a.

Apabila permintaan pada makhluk (manusia) menjadi perantara untuk meminta kepada Alloh, dan selalu memandang Alloh-lah dzat yang memberi.

Permintaan seperti ini masih diperbolehkan.

Perasaan yang luhur enggan membuka kebutuhan [hajat] -nya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Alloh Ta'ala.

Syeikh Junaid al-Baghdadi berkata:
''Dermawan [Al-Karim] itu ialah yang memberi kebutuhan seseorang sebelum diminta.''

Ada pula berpendapat:

''Dermawan [Al-Karim] ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berharap.''

Dermawan [Al-Karim] yaitu apabila berkuasa mema'afkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak memperdulikan tentang berapa banyak pemberiaannya, dan kepada siapa yang ia berikannya.

Al-karim adalah salah satu dari Asma’ul husna.

Asma’ ini memberi pengertian yang istimewa tentang Alloh.

Al-karim berarti:

1. Alloh Maha pemurah.

2. Alloh memberi tanpa diminta.

3. Alloh memberi sebelum diminta.

4. Alloh memberi apabila diminta.

5. Alloh memberi bukan karena permintaan tetapi cukup sekedar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya.
Alloh tidak mengecewakan harapan hambanya.

6. Alloh memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.

7. Alloh Yang Maha Pemurah tidak dikira berapa banyak yang diberikan-Nya dan kepada siapa Dia memberi.

8. Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Alloh memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanfaat kepada si hamba yang menerimanya.

Sekiranya para hamba mengenali Al-Karim niscaya permintaan, harapan dan angan-angannya tidak tertuju kepada yang lain melainkan kepada-Nya.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 47
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 46

46. "MAQAM FANA"

46.  "(sebelum adanya makhluk)Telah ada Alloh, dan tiada suatu di samping-Nya, dan Ia kini sebagaimana ada-Nya semula."

Keadaan seperti ini adalah keadaan orang yang sudah berada di maqam fana', dia tiada melihat sesuatu kecuali Alloh.

Bagaikan seorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya:
'Siapakah yang ada di dalam gedung itu?'
Jawabnya: 'Hanya dia seorang', yakni semua boneka dan patung itu tidak dapat disebut sebagai temannya.

Demikian pun orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yang dapat disebut selain Alloh 'Azza wa Jalla.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 46
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Selasa, 22 Agustus 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 45

45. " BASHIROH (Mata Hati) "

45.  "Sinar mata hati itu dapat memperlihatkan dekatnya Allah kepadamu. Dan mata hati itu sendiri dapat memperlihatkan kepadamu ketiadaanmu karena wujud [adanya] Allah dan hakikat matahati itulah yang menunjukkan kepadamu, hanya adanya Allah, bukan ketiadaanmu ['adam] dan bukan pula wujudmu."

Salik dalam perjalanannya menuju Alloh akan ada Nur dari Alloh tiga macam :

1.Syu'aa 'ul-bashirah yaitu cahaya akal.

2. Ainul-bashirah yaitu cahaya ilmu.

3. haqqul-bashirah yaitu cahaya Ilahi.

Dan semua nur tersebut akan menimbulkan macam-macam buah dan faidah yang penting.

Maka orang-orang yang menggunakan akal mereka, masih merasa adanya dirinya dan dekatnya kepada Tuhan [yakni, Alloh selalu meliputi dan mengurung mereka].

Sedang orang-orang yang menggunakan nurul ilmi merasa dirinya tidak ada jika dibanding dengan adanya Alloh.

Sedang ahli hakikat hanya melihat kepada Alloh dan tidak melihat apapun di samping-Nya.

Bukannya mereka tidak melihat adanya alam sekitarnya, tetapi karena alam sekitarnya itu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhajat kepada Alloh, maka adanya alam ini tidak menarik perhatian mereka, karena itu mereka menganggap bagaikan tidak ada.

Sebagian ulama ahli Thoriqoh berkata, “seorang hamba tidak akan mencapai hakikatnya tawadhu’ kecuali sudah bersinarnya hati dengan nur musyahadah.

Dan ketika hati sudah bersinar maka nafsunya akan lebur dan bisa menetapi kebenaran dan akhlak yang baik.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 45
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 43-44

RIDHO DENGAN NAFSU ADALAH PANGKAL KEMAKSIATAN

43. "Pokok / sumber dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat itu, karena ingin memuaskan (ridho dengan) hawa nafsu.

Sedangkan pokok/sumber segala ketaatan, kesadaran dan moral [budi pekerti], ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu."

Sebagaimana firman Alloh subhanahu wata'ala:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. QS. Yusuf 53. ”

Ridho dengan nafsu itu menjadi sumber semua kemaksiatan dan lupa kepada Alloh dikarenakan menjadi sebabnya tertutupnya cela dan cacatnya nafsu, sehingga celanya nafsu akan dianggap baik.

Dan orang yang ridho dengan nafsunya akan menganggap baik kelakuannya, orang yang menganggap baik kelakuannya tentu akan lupa kepada Alloh, dan sebab lupa itu manusia tidak mau meneliti kelakuannya dan meneliti aib dan cela dirinya, sehingga macam-macam kesenangan nafsu menguasai hatinya, dan akhirnya dia terjerumus pada kemaksiatan.

Abu Hafash berkata :

tt"Barangsiapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang waktu dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menarik ke jalan kebaikan, maka sungguh ia telah tertipu. Dan barangsiapa melihat padanya dengan sebuah kebaikan, berarti ia telah dibinasakannya."
Al-Junaid al-Baghdadi berkata: "Jangan mempercayai hawa nafsumu, walaupun telah lama taat kepadamu, untuk beribadah kepada Tuhan -mu."
Al-Bushiry dalam Burdahnya berkata: "Lawan selalu hawa nafsumu dan syaitan serta jangan menuruti keduanya, walaupun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan waspada."
Sedangkan curiga terhadap nafsu(tidak ridho dengan nafsu)itu menjadi sumber ketaatan dan ingat kepada Alloh, itu dikarenakan orang yang tidak ridho dengan nafsunya ia tidak menganggap baik kelakuannya, sehingga ia selalu waspada dan selalu meneliti semua kelakuannya, sehingga nafsunya tidak bisa bebas menguasai orang tersebut. dan orang yang waspada terhadap gerak gerik nafsu akan selalu menjauhi apa yang dilarang oleh Alloh. dan itulah yang dinamakan taat kepada Alloh.
ْﻥَﻻﻭ٭ َﺐﺤْﺼﺗ ًﻼِﻫﺎﺟ َﻰﺿْﺮَﻳَﻻ ِﻪِﺴﻔَﻧ ﻦَﻋ ٌﺮﻴﺧ َﻚﻟ ﻦِﻣ ﻥَﺍ َﺐَﺤْﺼﺗ ًﺎﻤِﻟﺎَﻋ ْﻦَﻋ َﻰﺿْﺮَﻳ ِﻪِﺴﻔَﻧ ُّﻱَﺎَﻓ ٍﻢِﻟَﺎﻌﻟ ٍﻢﻠِﻋ َﻰﺿْﺮَﻳ ﻦﻋ ِﻪﺴﻔﻧ ُّﻱﺍَﻭ ٍﻞْﻬَﺟ ﻻ ٍﻞِﻫَﺎﺠِﻟ ﻦﻋ َﻰﺿﺮَﻳ ِﻪﺴﻔﻧ ٭
44. "Dan sekiranya engkau bersahabat dengan orang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, itu lebih baik dari pada bersahabat dengan orang berilmu [orang alim] yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat diberikan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat menahan hawa nafsunya."
Orang yang tidak ridho dengan nafsunya akan selalu menganggap dirinya belum baik dan akhlaknya masih jelek.orang seperti ini baik untuk dijadikan sahabat, karena sangat banyak manfaatnya bagimu, kebodohannya tidak akan membahayakan dirimu.
Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keridhoan Alloh dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya apakah arti suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau mengendalikan hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.
Dalam sebuah hadits ada keterangan: "Seorang akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, karena itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus diambil sebagai sahabat."
Seorang penyair berkata: "Barang siapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya pasti tidak mulia.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 43-44
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 42

42. "KELUARLAH DARI SIFAT BASYARIYYAH"

42. "Keluarlah dari sifat-sifat kemanusianmu [sifat buruk dan rendah], semua sifat yang menyalahi kehambaan-mu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Alloh dan mendekat kepada-Nya."

Sifat-sifat manusia terbagi jadi dua yaitu : Lahir dan Bathin.

Sifat lahir ialah yang berhubungan dan dilakukan dengan anggota jasmani, dan sifat bathin ialah berlaku dalam hati [rohani].

Sedangkan yang berhubungan dengan anggota lahiriyah juga terbagi dua :
Yang sesuai dengan perintah syari'ah dan yang menyalahi perintah syari'ah yang berupa maksiat.

Demikian pula yang berhubungan dengan hati juga terbagi dua :
Yang sesuai dengan hakikat [kebenaran] bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat [kebenaran] berupa nifaq dan kebodohan.

Sifat-sifat yang buruk [rendah] ialah :
Hasad, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok [korupsi], gila jabatan, ingin dikenal, cinta dunia, tamak, rakus, riya dan lain-lain.

Dan dari sifat-sifat buruk ini akan menimbulkan sifat permusuhan, kebencian, merendahkan diri terhadap orang kaya, menghina orang miskin, pandai menjilat, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak malu dan lain-lain.

Apabila seseorang telah dapat menguasai dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan, baik yang langsung dalam ayat-ayat al-Qur'an dan yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam.

Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat kehadirat Alloh subhanahu wata'ala.

Sifat Ubudiyah [kehambaan] ialah mentaati semua perintah dan menjauhi semua larangan, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.

Ingatlah sesungguhnya Hakikatnya suluk yaitu,berusaha untuk membersihkan hati dari akhlaq yang tercela, lalu dihiasi dengan akhlaq yang baik dan terpuji, dan ini semua tidak akan berhasil kecuali mendapat pertolongan dari Alloh.

Sehingga bisa mengetahui sifat-sifat jelek yang ada pada dirinya, dan selalu menaruh curiga pada nafsunya.

Berprasangka buruk pada nafsunya.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 42
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 41

41. "AL-HAQ ITU TIDAK BISA" DIHIJAB

41. "Al-Haq, ialah Alloh subhanahu wata'ala, tiada terhijab [terbatas tirai] oleh sesuatu apapun, sebab tidak mungkin adanya sesuatu yang dapat menghijab Alloh.

Sebaliknya manusialah yang terhijab sehingga tidak dapat melihat adanya Alloh.

Sebab sekiranya ada sesuatu yang menghijab Alloh, berarti sesuatu itu dapat menutupi Alloh, dan andai kata ada tutup bagi Alloh, berarti wujud Alloh dapat terkurung/dibatasi, dan sesuatu yang mengurung/membatasi itu, dapat menguasai yang dikurung/dibatasi, padahal “Alloh yang berkuasa atas segala makhluk-Nya."

Pada hakikatnya Alloh itu tidak bisa dihijab, yakni hijab itu menjadi sifatnya Alloh itu tidak.

Akan tetapi yang menghijab sehingga kamu tidak bisa melihat Alloh itu adalah sifat-sifat nafsumu sendiri.

Karena sekiranya ada sesuatu yang bisa menghijab Alloh, pastilah perkara tersebut lebih besar dan lebih berkuasa bisa mengalahkan Alloh.

Karena sesuatu yang bisa menghijab/menghalangi itu bisa menutupi dari melihat sesuatu yang dibelakangnya.

Dan itu tidak sah buat Alloh.

Karena Alloh berfirman, “Alloh itu Dzat yang bisa memaksakan apa yang dikehendaki mengalahkan semua hamba-Nya”.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 41
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Senin, 21 Agustus 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 40

40. "BERUSAHALAH MENGETAHUI  AIB DIRI SENDIRI"

40. "Usahamu untuk mengetahui cela diri yang masih ada di dalam dirimu, itu lebih baik dari usahamu untuk terbukanya bagimu tirai ghaib”.

Seorang salik haruslah berusaha selalu melihat cela dan aib yang ada pada diri sendiri, jangan sampai mempunyai tujuan supaya mengetahui perkara yang ghoib yang menjadi kemauan hawa nafsu, seperti ingin mengetahui rahasia di hati orang lain, rahasia taqdir dan lain-lain.

Karena itu bisa mencela kehambaanmu kepada Alloh.

Orang arif berkata:

“Jadilah hamba Alloh yang selalu ingin mencapai Istiqamah, dan jangan menjadi hamba yang menuntut karomah.

Istiqomah adalah menunaikan kewajiban, sedangkan karomah adalah menuntut kedudukan.

Karomah dan kedudukan yang diberikan Allah kepada seorang wali itu, sebagai hasil dari Istiqamah.”

Istiqomah berarti tetap dalam Ubudiyah, tidak berubah keyakinan dan kepercayaannya kepada Alloh, ketuhanan Alloh, kekuasaan Alloh dan kebijaksanaan Alloh, baik dalam keadaan sehat ataupun sakit, senang ataupun susah, suka ataupun duka, kaya ataupun miskin.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 40
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah 39

39. NURUT-TAWAJJUH (IBADAH)

39. "Orang-orang salik [yang mengembara menuju kepada Alloh] telah mendapat hidayat dengan nur [cahaya] ibadah yang merupakan amalan untuk taqarrub [mendekat] kepada Alloh, sedang orang-orang yang telah sampai, mereka tertarik oleh nur yang langsung dari Tuhan bukan sebagai hasil ibadah, tetapi semata-mata karunia dan rahmat Alloh.

Maka orang-orang salik menuju ke alam nur, sedangkan yang telah sampai berkecimpung di dalam nur, sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Alloh.

Alloh berfirman:
"Katakanlah:
Alloh, kemudian biarkan yang lain-lain di dalam kesibukan mereka bermain-main."

Hakikat tauhid itu bila telah tidak melihat pengaruh-pengaruh sesuatu selain Alloh, dan inilah yang bernama haqqul-yaqin, dan melihat, merasa adanya pengaruh dari suatu selain Alloh itu hanya permainan belaka, dan itu bersifat penipuan atau munafik.

Katakanlah:

Alloh, yakni jangan menganggap ada sesuatu selain Alloh yang dapat engkau harap, engkau takuti dan berkuasa, sebab semua harapan kepada sesuatu selain Alloh adalah syirik, baik yang nampak ataupun yang samar-samar, besar ataupun kecil dalam pengertian syirik hampir tiada berbeda.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 39
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah 37-38

37. “Perbedaan pandang orang sudah wushul dengan salik”

37. "Jauh berbeda orang yang berpendapat (membuat dalil); adanya Alloh menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berpendapat (membuat dalil);
bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Alloh.

Orang yang berpendapat adanya Alloh menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya.

Sedangkan orang yang berpendapat adanya alam menunjukkan adanya Alloh, karena ia tidak sampai kepada Alloh.

Maka kapankah Alloh itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya.

Dan kapankah Alloh itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya."

Orang yang wushul ila-lloh itu ada dua cara :

1. Muriiduun / Salikuun yaitu:

orang yang mengharapkan bisa wushul kepada Alloh.

2. Muroo duun / Majdzubuun yaitu:

orang dikehendaki oleh Alloh atau ditarik oleh Alloh sehingga bisa wushul kepada Alloh.

Golongan pertama (Muriiduun / Salikuun) dalam suluknya masih terhalang dari Alloh, karena mata hatinya masih melihat selain Alloh, Alloh masih ghoib dalam mata hatinya, sehingga dia menggunakan makhluk (selain Alloh) untuk dalil adanya (wujudnya) Alloh.

Lisannya berdzikir, diya yaqin kalau yangmenggerakkan lisannya berdzikir itu alloh, tapi dia masih memperhatikan lisan dan dzikirnya, belum memperhatikan Alloh yang menggerakkan lisannya.

Golongan kedua (Muroo duun / Majdzubuun) dia langsung ditarik oleh Alloh dan dihadapi Alloh, sehingga hilanglah semua makhluk selain Alloh dalam mata hatinya, semua tidak ada wujudnya, yang wujud hanya Alloh.

Tapi ketika dia turun kebawah lagi(sadar dengan kehidupan dunia) dia tahu semua makhluk itu wujud karena wujudnya Alloh.


38. "Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Alloh.
Dan orang yang terbatas rezekinya, yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Alloh."

Orang yang telah sampai kepada Alloh, karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah, ke alam tauhid, maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih lapang, sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan faham yang terbatas, mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 37-38
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah 36

36. “ANGGOTA LAHIR SEBAGAI CERMIN ANGGOTA BATIN”

36. “Apa yang tersembunyi dalam rahasia ghoib, yaitu berupa Nur ma’rifat dan nur ilahi, pasti akan ada pengaruhnya di anggota lahir”.

Apabila dalam hati hamba sudah ada Nur ma’rifat dari Alloh,pengaruhnya Nur tersebut akan jelas tampak pada anggota lahir, karena keadaan lahir itu bisa menjadi cermin keadaan batin.

Abu Hafs berkata :

Bagusnya adab kesopanan lahir, membuktikan adanya adab yang didalam batin.

Rosululloh saw. Ketika melihat seorang yang memain-mainkan tangannya ketika sholat, maka Rosululloh saw. Bersabda :

Lau-khosya’a qolbuhu lakhosya-‘at jawarikhuhu.
( andaikan khusyu’ hati orang itu, niscaya khusyu' semua anggota badannya.”

Abu Tholib al-makky barkata :

Alloh telah menunjukkan tanda bukti orang kafir, yaitu bila disebut nama Alloh mereka mengejek dan enggan tidak mau menerimanya.

Alloh berfirman :

” Apabila disebut nama Alloh saja (sendiri), cemas dan muak hati orang-orang yang tidak percaya kepada akhirat, sebaliknya bila disebut nama-nama selain Alloh mereka gembira, dan menerima dan puas”. Az-zumar.45 .

Alloh menerangkan dalam ayat ini tentang sikap orang-orang kafir, berbeda dengan sikap orang mukmin, jiwanya merasa puas jika dikatakan, ini semua dari Alloh.

Dan ini semua perbedaan antara iman tauhid dengan syirik.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 36
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Minggu, 20 Agustus 2017

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 34-35

34-35. “PERMULAAN MENENTUKAN AHIRNYA”

34.  "Suatu tanda akan lulusnya seseorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerahkan kepada Alloh sejak awal perjuangannya."

Siapa saja yang memperbaiki suluknya pada permulaan dengan kembali kepada Alloh, pasrah, dan minta pertolaongan hanya kepada Alloh supaya diberi bisa wushul kepada-Nya, dan tidak mengandalkan amalnyanya yang berpenyakit, maka pada ahirnya akan mendapat kelulusan bisa wushul kepada Alloh, dan diberi keselamatan tidak putus di tengah jalan.

Seorang arif berkata :

Barangsiapa menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah dengan perantaraan sesuatu selain dari pada Allah, pasti akan putus karenanya. Dan barangsiapa dalam ibadahnya bersandar pada kekuatan dirinya, tidak diserahkan kepada Allah, hanya sampai di situ saja, dan tidak mencapai bagian-bagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal dan menyandarkan diri kepada Alloh.

35."Barangsiapa yang bersinar terang dengan taat dimasa permulaannya [salik], pasti akan bersinar terang pula di masa akhirnya dengan cahaya [nur] ma'rifat."
Barangsiapa yang kuat tawakkalnya dimasa permulaan [bidayah], maka akan bersinar terang terus hingga masa sampainya ke hadirat Tuhannya.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 34-35
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 33

33. “BERSANDARLAH KEPADA ALLOH”

33. "Tidak akan terhenti suatu permintaan yang semata-mata engkau sandarkan kepada karunia [kekuasaan] Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri."

Siapa yang menyampaikan semua hajat-hajatnya kepada Alloh, pasrah dan bergantung hanya pada Alloh, maka Alloh akan mendekatkan yang jauh, memudahkan yang sulit dan memberi keberhasilan pada hajatnya.

Dan barang siapa mengandalkan kepandaian, kekuatannya sendiri, maka Alloh akan menyerahkan hajatnya itu pada mereka sendiri.

Dan Alloh akan menghinakan mereka dan semua hajatnya tidak akan berhasil.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 33
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 32

32. “SIFATNYA DUNIA”

32. "Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni sifatnya."

Abdulloh bin Mas'ud rodhiyallohu 'anhu berkata :

"Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan."

Syeikh Jafar As-shoddiq rodhiyallohu 'anhu berkata :

"Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Alloh, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi.

Ketika ditanya:

Apakah itu?

Jawabnya :

Kesenangan di dunia."

Syeikh Junaid al-Baghdadi rodhiyallohu anhu berkata :

"Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesulitan dan penderitaan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan, maka itu adalah suatu karunia dan kelebihan.

" Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam berkata kepada Abdulloh bin Abbas :

Jika engkau dapat beramal karena Alloh dengan ikhlas dan keyakinan, maka laksanakanlah dan jika tidak dapat, maka sabarlah.
Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan itu suatu keuntungan yang besar."

Umar bin Khottob radhiyallohu 'anhu berkata kepada orang yang dinasehatinya :

"Jika engkau sabar, maka hukum [ketentuan - takdir] Alloh tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Alloh sedang engkau berdosa."

Maka apapun yang menimpa dirimu tetaplah berserah diri kepada Alloh dengan penuh kesabaran, sebab ketentuan Alloh pasti akan terjadi padamu.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 32
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah 31

31. “JANGAN MENUNGGU KESEMPATAN”

31. "Jangan menantikan habisnya penghalang-penghalang untuk lebih mendekat kepada Alloh, sebab yang demikian itu akan memutuskan engkau dari kewajiban menunaikan hak terhadap apa yang Alloh telah mendudukkan engkau di dalamnya.
[Sebab yang demikian itu memutuskan kewaspadaanmu terhadap kewajibanmu]."

Yang dituntut bagi salik, yaitu selalu melakukan amal ibadah, dan selalu mengawasi taqdirnya Alloh pada amal yang kau kerjakan, jangan terpengaruh dengan apa-apa yang menjadikan kau ragu dan penghalang-penghalangnya ibadah.

Abdulloh bin Umar rodhiyallohu 'anhu berkata :

"Jika engkau berada di waktu senja, maka jangan menunggu tibanya pagi, demikian pula jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu sore hari.

Pergunakanlah kesempatan di waktu muda, sehat, kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah dan miskin."

Sahl bin Abdullah at-Tustary berkata :

"Jika tiba waktu malam maka jangan mengharap tibanya siang hari, sehingga engkau menunaikan hak Alloh, waktu malam itu.

Dan menjaga benar-benar hawa nafsumu, demikian pula bila engkau berada pada pagi hari."

Allah berfirman:

"Kami [Alloh] akan menguji kamu dengan kejahatan dan kebaikan, sebagai ujian dan kepada Kami kamu akan dikembalikan." [QS. al-Anbiyaa 35].

Kadangkala ujian itu berupa, sehat, sakit, kesulitan, kelapangan, kekayaan dan kemiskinan.

Ujian keyakinan terhadap Alloh subhanahu wata'ala, sampai di mana ia mensyukuri nikmat dan bagaimana ia bersabar menghadapi musibah .

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 31
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah 30

30. “SEMUA ATAS TAQDIR ALLOH”

30. "Tiada suatu nafas terlepas dari padamu, melainkan di situ pula ada takdir Alloh yang berlaku atas dirimu."

Sebab tiap nafas hidup manusia pasti terjadi suatu taat atau maksiat, nikmat atau musibah [ujian].

Berarti nafas yang keluar sebagai wadah bagi sesuatu kejadian, karena itu jangan sampai nafas itu terpakai untuk maksiat dan perbuatan terkutuk oleh Alloh subhanahu wata'ala.

 

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 30
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 29

29. “JANGAN MENUDUH ALLOH”

29. "Permintaanmu dari Alloh mengandung pengertian menuduh Alloh, khawatir tidak memberimu. Dan engkau memohon kepada Alloh supaya mendekatkan dirimu kepada-Nya, berarti engkau masih merasa jauh dari pada-Nya”.

Dan engkau memohon kepada Alloh untuk mencapai kedudukan dunia dan akhirat, membuktikan tiada malunya engkau kepada-Nya, dan permohonanmu kepada sesuatu selain dari Alloh menunjukkan engkau jauh dari pada-Nya.

Permohonan seorang hamba kepada Alloh terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti dengan seksama dan mendalam.

Permintaan kepada Alloh mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa Alloh akan memberi tanpa minta, ia tidak akan minta, disebabkan karena khawatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka Alloh melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh Alloh belum juga diberi.

Dan permintaanmu untuk taqarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib dari pada-Nya.

Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan-kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya engkau dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau malu dari Alloh tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekat kepada-Nya.

Sedang bila engkau minta dari sesuatu selain Alloh, membuktikan jauhmu dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa Alloh dekat kepadamu, tentu engkau tidak akan meminta selain kepada-Nya.

Kecuali permintaan yang semata-mata untuk menurut perintah Alloh, karena hanya inilah yang benar.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 29
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 28

28. “SALIK, JANGAN BERHENTI KARENA GODAAN”

28. "Tiada kehendak dan semangat orang salik [yang mengembara menuju kepada Alloh] untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghoib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat.

Bukan itu tujuan, dan teruslah mengembara berjalan menuju ke depan.

Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya :

Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir."

Arti SALIK yaitu : menempuh jalan.

Yang di maksud Salik disini usaha,  caranya bisa Wushul kepada Alloh.

Yang di maksud WUSHUL disini yaitu :
Sampai pada tingkatan merasa selalu berada disisi Alloh, di dekat Alloh, dalam segala kesempatan dan waktu.

Abu Hasan at-Tustary berkata :

"Di dalam pengembaraan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan selalu ber-dzikir kepada Allah, sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat pengembaraanmu."

Syeih Abu Hasan [Ali] asy-Syadzily rodhiallohu anhu berkata :

"Jika engkau ingin mendapat apa yang telah dicapai oleh waliyulloh, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Alloh, dengan isyarat [teori] yang tepat atau perbuatan yang tidak bertentangan dengan Kitabulloh dan Sunnaturrosul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Alloh yang diperintah mengabaikan musuh-Nya.

Apabila engkau telah dapat melakukan dua sifat itu, yakni :

Mengabaikan manusia dan dunia, maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Alloh dengan Istiqomah dan selalu tunduk serta Istighfar."

Pengertian keterangan ini :

Agar engkau benar-benar merasakan sebagai hamba Alloh dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati dan perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekuasaan selain Alloh, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi dan memahami :

"Tiada daya dan kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan dan pertolongan Alloh."

Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti belum sempurna mengaku diri hamba Alloh.

Sebaliknya bila telah benar-benar mantap perasaan La haula wala Quwwata illa billah itu, dan tetap demikian beberapa lama, niscaya Alloh membukakan untuknya pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah di dengar dari manusia seisi alam.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 28
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 27

27. “JANGAN MINTA DIPINDAH DARI SATU MAQOM KE MAQOM LAIN”

27. "Jangan engkau meminta kepada Alloh supaya dipindahkan dari suatu masalah kepada masalah yang lain, sebab sekiranya Alloh menghendakinya tentu telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaan yang terdahulu."

Dalam suatu hikayat :

Ada seorang yang salik, dia bekerja mencari nafkah dan beribadat dengan tekun, lalu ia berkata dalam hatinya :

Andai kata aku bisa mendapatkan untuk tiap hari, dua potong roti, niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadat.

Tiba-tiba ia tanpa ada masalah, tiba-tiba ia ditangkap dan dipenjara, dan tiap hari ia menerima dua potong roti, kemudian setelah beberapa lama ia merasa menderita dalam penjara, ia berpikir :

Bagaimana sampai terjadi demikian ini?

Tiba-tiba ia mendengar suara yang berkata :

Engkau minta dua potong roti, dan tidak minta keselamatan, maka Kami [Alloh] menerima dan memberi apa yang engkau minta.

Setelah itu ia memohon ampun dan membaca istighfar, maka seketika itu pula pintu penjara terbuka dan ia dibebaskan dari penjara.

Sebab Alloh menjadikan manusia dengan segala kebutuhannya, sehingga tidak perlu manusia merasa khawatir, ragu dan jemu terhadap sesuatu pemberian Alloh, walaupun berbentuk penderitaan pada lahirnya, sebab hakikatnya nikmat besar bagi siapa yang mengetahui hakikatnya, sebab tidak ada sesuatu yang tidak muncul dari rahmat, karunia dan hikmah Alloh subhanahu wata'ala.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 27
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 26

26. “JANGAN MENUNDA AMAL”

26.  "Menunda amal perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa.

Seorang murid apabila terlalu disibukkan dengan urusan dunianya, yang bisa menghalangi amal yang menyebabkan dekat dengan Alloh, sehingga dia menangguhkan amal menunggu kesempatan yang tidak sibuk itu dinamakan kumprung/kebodohan.

Kebodohan itu disebabkan oleh :

1. Karena ia mengutamakan duniawi.

Padahal Alloh subhanahu wata’ala berfirman :
‘’Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.’’

2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu atau kemungkinan ia akan dijemput oleh maut yang setiap saat selalu menantinya.

3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.

Seorang penyair berkata :

‘’Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.

Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 26
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 25

25. “TANDA-TANDA KEBODOHAN”

25. "Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan, barangsiapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan oleh Alloh di dalam masa itu."

Sungguh amat bodoh seorang yang mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Alloh.

Pada Hikmah lain ada keterangan :

Tiada suatu saat pun yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Alloh yang dilaksanakan.

Alloh berfirman :

"Tiap hari Dia [Alloh] menentukan urusan ."

Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan dan lain-lain.

Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan ikhlas kepada hukum ketentuan Alloh pada tiap saat, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Alloh .

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 25
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 15-24

15-24. “BUKTI KEKUASAAN ALLOH”

15.  "Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Alloh yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau dari pada melihat kepada-Nya dengan hijab tanpa wujud di sisi Alloh."

Sepakat para orang-orang arif, bahwa segala sesuatu selain Alloh tidak ada artinya, tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Alloh, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya.

Maka barangsiapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, maka di sinilah terhijabnya.

Alloh berfirman :

" segala sesuatu rusak binasa kecuali dzat Alloh."

Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam membenarkan ucapan seorang penyair yang berkata :

''Camkanlah!
Bahwa segala sesuatu selain Alloh itu palsu belaka.
Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan binasa.

16.  "Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab [dibatasi tirai] oleh sesuatu padahal Alloh yang menampakkan [mendhohirkan] segala sesuatu."

17.  "Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang tampak [dhohir] pada segala sesuatu."

18.   "Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang terlihat dalam tiap sesuatu."

19.   "Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang tampak pada tiap sesuatu. Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang ada dhohir sebelum adanya sesuatu."

20.   "Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] lebih jelas dari segala sesuatu."

21.   "Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] yang tunggal yang tidak ada di samping-Nya sesuatu apapun.

22.   "Bagaimana akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [Alloh] lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu."

23.   "Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal seandainya tidak ada Alloh, niscaya tidak akan ada segala sesuatu."

Alloh itu dzat yang mendhohirkan segala sesuatu, bagaimana mungkin sesuatu itu bisa menutupi/menghijab-Nya.

Alloh itu dzat yang nyata pada segala sesuatu, bagaimana bisa Dia tertutupi.

Alloh itu dzat yang maha Esa, tidak ada sesuatu yang bersama-Nya, bagaimana mungkin Dia dihijab oleh sesuatu yang tidak wujud disamping-Nya.

Demikian tampak jelas sifat-sifat Alloh pada tiap-tiap sesuatu di alam ini, yang semua isi alam ini sebagai bukti kebesaran, kekuasaan, keindahan, kebijaksanaan dan kesempurnaan dzat Alloh yang tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluknya.

Sehingga bila masih ada manusia yang tidak mengenal Alloh [tidak melihat Alloh], maka benar-benar ia telah silau oleh cahaya yang sangat terang, dan telah terhijab dari nur ma'rifat oleh awan tebal yang berupa alam sekitarnya.

24.   "Sungguh sangat ajaib, bagaimana tampak wujud dalam ketiadaan, atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, di samping dzat yang bersifat qidam."

Yakni, sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana dapat tampak ada wujudnya.

Hakikat ‘adam [tidak ada] itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan cahaya terang.

Demikian pula bathil dan haq.

Bathil itu harus rusak dan binasa, sedangkan yang haq itulah yang harus tetap kuat bertahan.

Kata KAYFA yang jumlahnya ada sepuluh, semua isim Istifham, tapi yang dimaksudkan menggunakkan arti Ta’ajjub (heran),dan arti menafikan (tidak mungkin).

Ta’ajjub itu karena syuhudnya kepada Alloh, jika hamba sudah syuhud kepada Alloh semua wujud selain Alloh itu hilang dari pandangan mata hatinya, semua selain Alloh itu sama sekali tidak ada wujudnya.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 15-24
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 14

14. “Alam terang karena Nur Ilahi”

14. "Alam itu semuanya dalam kegelapan, sedangkan yang meneranginya, hanya karena dhohirnya Al-haq [Alloh] padanya, maka barangsiapa yang melihat alam, lantas tidak melihat Alloh di dalamnya, atau didekatnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sungguh ia telah disilaukan oleh nur [cahaya], dan tertutup baginya surya [nur-cahaya] ma'rifat oleh tebalnya benda-benda alam ini."

Alam semesta yang mulanya tidak ada dan memang gelap, sedang yang menampakkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Alloh padanya, karena itu barangsiapa yang melihat sesuatu benda alam ini, lantas tidak terlihat olehnya kebesaran dan kekuasaan Alloh yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya.

Bagaikan ia melihat cahaya yang terang benderang, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu.

Maka semua seisi alam ini bagaikan cahaya, sedang yang hakiki [sebenarnya] terlihat itu semata-mata kekuasaan dzat Alloh subhanahu wata'ala.

Arti melihat Alloh didalam AL-KAUN (alam) yaitu :

Segala sesuatu yang ada ini berjalan menurut hukum Alloh, jadi hatinya hamba ketika melihat alam, langsung dia tahu Alloh yang membuat.

ALLOHU KHOOLIQU KULLI SYAI’
(Alloh-lah yang menciptakan segala sesuatu).

Tidak melihat sebab-musababnya.

Melihat Alloh didekat AL-KAUN (alam) yaitu :

Sadar kalau Alloh-lah yang mengurusi dan mengatur semuanya sesuai dengan kehendakNya, dengan kesadaran yang seperti ini hati akan terdorong untuk selalu muroqobah dengan rasa syukur dan selalu berusaha melaksanakan kewajiban dari Alloh, dan akhirnya akan hilang kesenangan-kesenangan nafsu.

Melihat Alloh sebelum AL-KAUN (alam) sebelum sesuatu diwujudkan yaitu :

Melihat kita melakukan sesuatu yang di inginkan itu tidak akan terjadi tanpa dikehendaki oleh Alloh.

Dengan kesadaran seperti ini hati bisa bertawakkal (menyerahkan semua pada Alloh atas apa yang di inginkan.

Karena yakin semua yang wujud itu pasti Alloh yang mewujudkan.

Melihat Alloh sesudah AL-KAUN (alam) yaitu :

Sebab melihat Alloh hamba tidak merasa kalau dia melakukan sesuatu/amal, karena sadar bahwa Alloh-lah yang menjadikan amal itu.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 14
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 13

13. “Resiko Hati yang keruh”

13. "Bagaimana akan dapat bercahaya hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam cermin hatinya.

Bagaimana berangkat menuju kepada Allah, padahal ia masih terbelenggu oleh nafsu syahwat.

Bagaimana akan dapat masuk menjumpai Allah, padahal ia belum bersih dari kelalaian.

Bagaimana ia berharap akan mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi, padahal ia belum taubat dari kekeliruannya."

Dalam hikmah ke 13 ini menjadi kelanjutan hikmah sebelumnya (12) yang menerangkan tentang pentingnya Uzlah, sedang hikmah 13 memperingatkan Uzlah jasad (tubuh) saja tidak akan ada artinya jika hatinya tidak ikut ber-Uzlah, hatinya masih bebas dan dipenuhi empat perkara :

1. Gambaran, ingatan, keinginan terhadap benda(dunia), seperti harta, wanita,pangkat jabatan dll.

2. Syahwat,keinginan yang melupakan Alloh.

3. Kelalaian dari dzikir kepada Alloh.

4. Dosa-dosa yang tidah di basuh dengan Taubat.

Jadi seorang murid yang ingin wushul kepada Alloh harus membersihkan dari empat perkara tersebut.

Karena Berkumpulnya dua hal yang berlawanan pada saat besamaan dalam satu tempat dan waktu itu mustahil [tidak mungkin], sebagaimana berkumpulnya antara diam dan gerak, antara cahaya terang dan gelap.

Demikian pula cahaya iman berlawanan dengan gelap yang disebabkan karena selalu masih berharap kepada sesuatu selain Alloh.

Demikian pula mengembara menuju kepada Alloh harus bebas dari belenggu hawa nafsu supaya dapat sampai kepada Alloh azza wajalla.

Alloh berfirman :

"Bertakwalah kepada Alloh dan Alloh akan mengajarkan kepadamu segala kebutuhanmu."

Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

"Barangsiapa mengamalkan apa yang telah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan yang belum diketahui."

Imam Ahmad bin Hambal rodhiallohu 'anhu bertemu dengan Ahmad bin Abi Hawari dan berkata :

Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang pernah engkau dapat dari gurumu Abu Sulaiman.

Jawab Ahmad bin Abi Hawari :

Bacalah Subhanallah tapi tanpa rasa kekaguman.

Setelah dibaca oleh Ahmad bin Hambal :

"Subhanallah".

Maka Ibnu Hawari berkata :

Aku telah mendengar Abu Sulaiman berkata :

Apabila hati [jiwa] manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, niscaya akan terbang ke alam malakut, kemudian kembali membawa berbagai ilmu yang penuh hikmah tanpa memerlukan lagi guru.

Ahmad bin Hambal setelah mendengar keterangan itu langsung ia berdiri dan duduk ditempatnya berulang-ulang sampai tiga kali, lalu berkata :

Belum pernah aku mendengar keterangan serupa ini sejak aku masuk Islam.

Ia sungguh merasa puas dan sangat gembira menerima keterangan itu,
lalu ia membaca hadits :

"Man amila bima alima warrotsahullohu ilma maa lam ya'lam."

Barangsiapa yang mengamalkan apa yang telah diketahui, maka Alloh akan mewariskan kepadanya pengetahuan yang belum diketahui .

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 13
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 12

12. “ ‘UZLAH”

12. "Tidak ada sesuatu yang sangat berguna bagi hati [jiwa], sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan tafakur."

Seorang murid/salik kalau benar-benar ingin wushul kepada Alloh, pastilah ia berusaha bagaimana supaya hatinya tidak lupa pada Alloh, bisa selalu mendekatkan diri kepada Alloh.

Dalam usaha ini tidak ada yang lebih bermanfaat kecuali uzlah (menyendiri dari pergaulan umum), dan dalam kondisi uzlah murid mau Tafakkur(berfikir tentang makhluknya Alloh, kekuasaan Alloh, keagungan Alloh, keadilan Alloh dan belas kasih nya Alloh) yang bisa menjadikan Hati timbul rasa takdhim kepada Alloh.

Menambah keyakinan dan ketaqwaan kepada Alloh.

Adapun bahayanya murid yang tidak uzlah itu banyak sekali,
Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

"Perumpamaan seorang sahabat yang tidak baik, bagaikan pandai besi yang membakar besi, jika kamu tidak terkena oleh percikan apinya, maka kamu terkena bau busuknya."

Alloh Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa alaihissalam :

" Wahai putra Imran! Waspadalah selalu dan pilihlah untuk dirimu seorang sahabat [teman], dan sahabatmu yang tidak membantumu untuk membuat taat kepada-Ku, maka ia adalah musuhmu."

Dan juga Alloh mewahyukan kepada Nabi Dawud alaihissalam :

" Wahai Dawud!
Mengapakah engkau menyendiri?
Jawab Dawud:
Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekat kepada-Mu.

Maka Alloh berfirman :

Wahai Dawud!
Waspadalah selalu, dan pilihlah untukmu sahabat, dan tiap sahabat yang tidak membantu untuk taat kepada-Ku, maka itu adalah musuhmu, dan akan menyebabkan membeku hatimu serta jauh dari-Ku."

Nabi Isa alaihissalam bersabda :

"Jangan berteman dengan orang-orang yang mati, niscaya hatimu akan mati.
Ketika ditanya :

Siapakah orang-orang yang mati itu?

Nabi Isa memjawab :

Mereka yang rakus kepada dunia.”

Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

"Yang paling aku khawatirkan pada umatku, ialah lemahnya iman dan keyakinan ."

Nabi Isa alaihissalam bersabda :

"Berbahagialah orang yang perkataanya dzikir, diamnya tafakur dan pandangannya tertunduk.
Sesungguhnya orang yang sempurna akal ialah yang selalu mengoreksi dirinya, dan selalu menyiapkan bekal untuk menghadapi hari setelah mati."

Sahl at-Tustary radhiallahu 'anhu berkata :

"Kebaikan itu terhimpun dalam empat macam, dan dengan itu tercapai derajat wali [di samping melakukan semua kewajiban-kewajiban agama], yaitu :
1. Lapar.
2. Diam.
3. Menyendiri.
4. Bangun tengah malam [sholat tahajjud].

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 12
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 11

11. “Hati-hati dengan keterkenalan”

11. "Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya."

Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seorang yang beramal, dari pada menginginkan kedudukan dan terkenal pergaulannya di tengah-tengah masyarakat.

Dan ini termasuk keinginan hawa nafsu yang utama.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa yang merendahkan diri, maka Alloh akan memuliakannya dan barang siapa yang sombong, Alloh akan menghinanya.

Ibrahim bin Adham radhiallohu 'anhu berkata :
"Tidak benar tujuan kepada Alloh, siapa yang ingin terkenal."

Ayyub as-Asakhtiyani radhiallohu 'anhu berkata :
"Demi Alloh tidak ada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas pada Alloh, melainkan ia merasa senang, gembira jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya."

Mu'adz bin Jabal berkata :
Rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam bersabda :

"Sesungguhnya sedikit riya' itu sudah termasuk syirik. Dan barangsiapa yang memusuhi wali Alloh, maka telah memusuhi Alloh. Dan sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang bertaqwa yang tersembunyi [tidak terkenal], yang bila tidak ada, tidak dicari dan bila hadir tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka bagai pelita hidayat, mereka terhindar dari segala kegelapan dan kesukaran."

Abu Hurairoh rodhiallahu 'anhu berkata :

Ketika kami di majlis Rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam, tiba-tiba Rasululloh
bersabda :

Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang sholat bersama kamu. Abu Hurairoh berkata :

Aku berharap semoga akulah orang yang ditunjuk oleh Rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam itu.
Maka pagi-pagi aku shalat di belakang Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam dan tetap tinggal di majlis setelah orang-orang pada pulang.
Tiba-tiba ada seorang budak hitam berkain compang-camping datang berjabat tangan pada Rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam sambil berkata :

Wahai Nabi Alloh!
Do’akan semoga aku mati syahid.
Maka Rasululloh shollallohu 'alaihi wasallam berdoa, sedang kami mencium bau kasturi dari badannya.

Kemudian aku bertanya :

Apakah orang itu wahai Rasululloh?

Jawab Nabi :
Ya benar. Ia seorang budak dari bani fulan.

Abu Hurairoh berkata :
Mengapa engkau tidak membeli dan memerdekakannya wahai Nabi Alloh?

Jawab Nabi :
Bagaimana aku akan dapat berbuat demikian, sedangkan Alloh akan menjadikannya seorang raja di surga.

Wahai Abu Hurairoh!
Sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang-orang terkemuka, dan ini salah seorang raja dan terkemuka.

Wahai Abu Hurairoh!
Sesungguhnya Alloh mengasihi, mencintai makhluknya yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambut, yang kempes perut kecuali dari hasil yang halal, yang bila akan masuk kepada raja tidak diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak akan diterima, bila tidak ada tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan ia meninggal tidak dihadiri jenazahnya.

Para sahabat bertanya :
Tunjukkan kepada kami wahai Rasululloh salah seorang dari mereka?

Jawab Nabi:

Uwais al-Qorany, seorang berkulit coklat, lebar kedua bahunya, tingginya agak sedang dan selalu menundukkan kepalanya sambil membaca al-Qur'an, tidak terkenal di bumi tetapi terkenal di langit, andaikan ia bersungguh-sungguh memohon sesuatu kepada Allah pasti diberinya.
Di bawah bahu kirinya berbekas.

Wahai Umar dan Ali!
Jika kamu bertemu padanya, maka mintalah kepadanya supaya memohonkan ampun untukmu.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 11
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Kamis, 17 Agustus 2017

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 10

10. “Ruhnya Amal yaitu Ikhlas”

10. "Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang roh [jiwanya], ialah terdapatnya rahasia ikhlas dalam amal perbuatan itu."

Amal ialah, geraknya badan lahir atau hati.

Amal itu digambarkan sebagai tubuh/jasad.

Sedangkan ikhlas itu sebagai ruhnya.
Yakni., badan tanpa ruh berarti mati.

Amal lahir atau amal hati itu bisa hidup hanya dengan adanya ikhlas.

Alloh berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas)kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” albayyinah 5.

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas)kepada-Nya .” Az-zumar 2.

Imam Hasan Al-Bashari, barkata:

“Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a. tentang ikhlas, beliau menjawab:

Aku pernah bertanya kepada Rasululloh SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab:

Aku pernah menanyakan tentang ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s dan beliau menjawab:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Alloh Rabbul 'Izzaah, dan IA menjawab:

"IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg Kutitipkan di hati hambaKU yg Aku cintai."


Ikhlas itu berbeda/bertingkat sesuai dengan perbedaan orang yang beramal.

Keikhlasan orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan amal perbuatan itu telah bersih dari pada riya' yang nampak ataupun yang tersembunyi, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya ,dan supaya diselamatkan dari neraka-Nya.

Keikhlasan orang-orang yang cinta kepada Alloh, yang beramal hanya karena mengagungkan Alloh,karena hanya Alloh dzat yang wajib di Agungkan, tidak karena pahala atau selamat dari siksa neraka.

Sayyidah Robi’ah al-‘Adawiyyah bermunajat pada Alloh:

Ya Alloh, saya beribadah kepadamu bukan karena takut nerakamu, dan juga tidak karena cinta dengan surgamu. Perkataan ini masih menganggap dirinya yang beribadah(mengaku bisa beribadah).

Keikhlasan orang –orang yang sudah Ma’rifat kepada Alloh.

Mereka selalu melihat kepada Alloh, gerak dan diamnya badan dan hatinya itu semua atas kehendak Alloh, mereka tidak merasa kalau bisa beramal, kecuali diberi pertolongan oleh Alloh, tidak sebab daya kekuatan dirinya sendiri.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 10
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 9

9. “Ahwal akan menentukan a’maal”

9. ”Beraneka macam jenis amal perbuatan, karena bermacam-macam pula pemberian karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya.(Hal).”

Dalam pandangan tasawuf, Hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat.

Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Alloh).

Tanpa Hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat.

Ahli ilmu membina makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasawuf bermakrifat melalui pengalaman tentang hakikat.

Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka keghoiban kepadanya.

Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin.

Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting.

Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini.

Rasululloh SAW. sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibrail a.s dalam rupanya yang asli dua kali saja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasululloh SAW. dengan rupa yang berbeda-beda, Rasululloh tetap mengenalinya sebagai Jibrail a.s.

Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan Hal atau zauk yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan.

Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu.

Sebelum ini pernah dinyatakan bahawa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat.

Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai pintu gerbangnya.

Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Alloh, semata-mata karunia Alloh yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya.

Karunia Alloh yang mengandung makrifat itu dinamakan Hal.

Ada orang yang memperoleh Hal sekali saja dan dikuasai oleh Hal dalam waktu yang tertentu saja dan ada juga yang terus-menerus di dalam Hal.

Hal yang terus-menerus atau berkekalan dinamakan wishol yaitu penyerapan Hal secara terus-menerus, kekal atau baqo’.

Orang yang mencapai wishol akan terus hidup dengan cara Hal yang terjadi.

Hal-hal (ahwal) dan wishol bisa dibagi menjadi lima macam:

1 : Abid:

Abid adalah orang yang dikuasai oleh Hal atau zauk yang membuat dia merasakan dengan sangat bahawa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai daya dan upaya untuk melakukan sesuatu.
Kekuatan, usaha, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang dari Alloh.
Semuanya itu adalah karunia Alloh semata-mata.
Alloh sebagai Pemilik yang sebenarnya, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada masa yang Dia kehendaki.
Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah s.w.t sekiranya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, kerana dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah SWT.

2 : Asyikin:

Asyikin ialah orang yang memandang sifat Keindahan Allah SWT.
Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah SWT di dalamnya.
Amal atau kelakuan asyikin ialah gemar merenungi alam dan memuji Keindahan Allah SWT pada apa yang disaksikannya.
Dia boleh duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu.
Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya.
Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah SWT.
Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat.
Kesadarannya bukan lagi pada alam ini.
Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Alloh SWT.

3 : Muttakholiq:

Muttakholiq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya.
Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faroidh atau Qurbi Nawafil.
Dalam Qurbi Faroidh, muttakholiq merasakan dirinya adalah alat dan Allah SWT menjadi Pengguna alat.
Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang akan terjadi pada kelakuan dan perbuatannya.
Dia menjadi orang yang berpisah dari pada dirinya sendiri.
Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya.
Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahawa Allah SWT melakukan apa yang Dia kehendaki.
Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah SWT, dan diamnya juga adalah gerakan Allah SWT.
Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir.
Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, berlaku secara spontan.
Kelakuan atau amal Qurbi Faroidh ialah bercampur-campur di antara logika dengan tidak logika, mengikut adat dengan merombak adat, kelakuan alim dengan jahil.
Dalam banyak perkara penjelasan yang boleh diberikannya ialah, “Tidak tahu! Allah SWTberbuat apa yang Dia kehendaki”.

Dalam suasana Qurbi Nawafil pula muttakholiq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah SWT, dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri.

Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah SWT karena Allah SWt memberikan kepadanya untuk berbuat sesuatu.

Contoh Qurbi Nawafil adalah kelakuan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah SWT juga kelakuan beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya.

Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah SWT yang diizinkan menjadi kemampuan beliau, sebab itu beliau tidak ragu-ragu untuk menggunakan kemampuan tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah SWT.

4 : Muwahhid:

Muwahhid fana’ dalam dzat, dzatnya lenyap dan DZat Mutlak yang menguasainya.

Bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Alloh SWT.

Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud.

Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan.

Misalkan dia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah!

Dia benar-benar telah lenyap dari ke‘Abdullah-an’ dan benar-benar dikuasai oleh ke‘Allah-an’.

Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas daripada beban hukum syarak.

Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh kewujudan ‘Aku Hakiki’.

Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam ridho Allah SWT.

Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat.

Perlu diketahui bahwa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya.

Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahwa siapa yang mengatakan, “Ana al-Haq!” sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!

5 : Mutahaqqiq:

Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam dzat turun kembali kepada kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Alloh di muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurusi.

Dalam kesadaran dzat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Alloh SWT dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya.

Sebab itu orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin.

Dia mesti turun kepada kesadaran sifat barulah dia boleh memimpin orang lain.

Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Alloh SWT menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Alloh SWT dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhoi Alloh SWT.

Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli thorikoh yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Robbani.

Insan Robbani peringkat tertinggi ialah para nabi-nabi dan Alloh karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 9
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Terjemah Al-Hikam Hikmah ke 8

8. “Ketika Alloh membuka pintu perkenalan”

8. ”Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma’rifat [mengenal pada-Nya], maka jangan menghiraukan soal amalmu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu.

Tidakkah engkau tahu bahwa ma’rifat itu semata-mata pemberian karunia Alloh kepadamu, sedang amal perbuatanmu hanyalah hadiahmu kepada-Nya dengan pemberian karunia Alloh kepadamu.”

Ma’rifat [mengenal] kepada Allah, itu adalah puncak keberuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepada-Nya, maka tidak perlu pedulikan berapa banyak amal perbuatanmu, walaupun masih sedikit amal kebaikanmu.

Sebab ma’rifat itu suatu karunia dan pemberian langsung dari Allah, maka sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikan.

Abu Huroiroh ra. berkata:
Rasululloh saw. bersabda :

Alloh azza wajalla berfirman:

“Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh kepada orang lain, maka Aku lepaskan ia dari ikatan-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbarui amal, sebab yang lalu telah diampuni semua.”

Diriwayatkan:

Bahwa Alloh telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi diantara beberapa Nabi-Nya .”

Aku telah menurunkan ujian kepada salah seorang hamba-Ku, maka ia berdoa dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengeluh, maka Aku berkata kepadanya:

Hamba-Ku bagaimana Aku akan melepaskan dari padamu rahmat yang justru ujian itu mengandung rahmat-Ku.”

Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu engkau tidak dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu, maka dengan ujian itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan di sisi Alloh.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 8
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH AL HIKAM HIKMAH 7

7. “Jangan meragukan janji

7. "Jangan sampai kamu merasa ragu, terhadap janji Alloh, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, walaupun telah tertentu waktunya, supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan cahaya hatimu."

Manusia sebagai hamba tidak mengetahui kapankah Alloh akan menurunkan karunia dan rahmat-Nya, sehingga manusia jika melihat tanda-tanda ia menduga, mungkin telah tiba saatnya, padahal bagi Alloh belum memenuhi semua syarat yang dikehendaki-Nya, maka bila tidak terjadi apa yang telah diduganya, hendaknya tidak ada keraguan terhadap kebenaran janji Alloh Subhanahu Wata'ala.

Sebagaimana yang terjadi dalam Sulhul [perdamaian] Hudaibiyah, ketika Rasululloh Shallalloahu 'alaihi Wasallam, menceritakan mimpinya kepada sahabatnya, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk ke kota Makkah dan melaksanakan ibadah umroh dengan aman dan sejahtera [mimpi Rasululloh saw. yang tersebut dalam surah al-Fath].

Alloh berfirman:

"Sungguh Alloh akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti memasuki Masjidil Haram, jika Alloh menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu merasa takut. Maka Alloh mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat."
[QS. al-Fath 27].

Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena di tolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penanda tanganan perjanjian Sulhul [perdamaian] Hudaibiyah, yang oleh Umar dan sahabat-sahabat lainnya dianggap sangat mengecewakan,
maka ketika Umar ra. mengajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi saw:

Aku hamba Alloh dan utusan-Nya dan Alloh tidak akan mengabaikan aku.

Firman Alloh:

"(Dalam menghadapi ujian dari Alloh) Sehingga Rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Alloh? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu dekat."
[QS. al-Baqoroh 214].

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 7
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 6

6. “Ridho dengan pilihan Alloh”

6. "Janganlah keterlambatan/tertundanya waktu pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdo’a menyebabkan putus harapan, sebab Alloh telah menjamin dan menerima semua do’a dalam apa yang ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, dan pada waktu yang ditentukan Alloh, bukan pada waktu yang engkau tentukan."

Alloh telah berjanji akan mengabulkan do’a.

Sesuai dengan firman-Nya, “Mintalah kamu semua kepada-Ku, Aku akan mengijabah do’amu semua” .

dan

Alloh berfirman, "Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tidak ada hak bagi mereka untuk memilih."

Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya.

Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui, maha bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan yang Maha pengasih, Maha mengetahui dan Maha bijaksana.

Walaupun pada lahirnya pahit dan menyakitkan rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga terkabulkan keinginannya, janganlah terburu-buru putus asa.

Firman Allah:

"Dan mungkin jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan mungkin jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
[QS. al-Baqarah 216].

Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily radhiallahu 'anhu ketika mengartikan ayat ini:

''Sungguh telah diterima do’amu berdua [Musa dan Harun alaihissalam] yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya, maka hendaklah kamu berdua tetap istiqamah [sabar dalam melanjutkan perjuangan dan terus berdo’a], dan jangan
mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti [kekuasaan dan kebijaksanaan Allah].
" [QS. Yunus 89].

Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima do’a Nabi Musa dan Harun alaihissalam selama/sesudah 40 tahun lamanya.

Rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam bersabda:

"Pasti akan dikabulkan do’amu selama tidak terburu-buru serta mengatakan, aku telah berdo’a dan tidak diterima."

Anas rodhiallohu 'anhu berkata:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada orang berdoa, melainkan pasti diterima oleh Allah doanya, atau dihindarkan dari padanya bahaya, atau diampuni sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa atau untuk memutus silaturrahim.

Syeih Abu Abbas al-Mursi ketika ia sakit, datang seseorang membesuknya dan berkata:

Semoga Alloh menyembuhkanmu [Afakallohu]. Abu Abbas terdiam dan tidak menjawab.

Kemudian orang itu berkata lagi:

Alloh yu'aafika.

Maka Abu Abbas menjawab:

Apakah kamu mengira aku tidak memohon kesehatan kepada Alloh?
Sungguh aku telah memohon kesehatan dan penderitaanku ini termasuk kesehatan,
ketahuilah Rasululloh shallallohu 'alaihi wasallam memohon kesehatan dan ia berkata:

" Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku.''

Abu Bakar as-Siddiq memohon kesehatan dan meninggal terkena racun.

Umar bin Khottob memohon kesehatan dan meninggal dalam keadaan terbunuh.

Usman bin Affan memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh.

Ali bin Abi Tholib memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh.

Maka bila engkau memohon kesehatan kepada Alloh, mohonlah menurut apa yang telah ditentukan oleh Alloh untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerahkan segala sesuatunya menurut kehendak Tuhannya, dan meyakini bahwa apa yang diberikan Tuhan kepadanya, itulah yang terbaik walaupun tidak sejalan dengan nafsu syahwatnya.

Dan syarat utama untuk diterimanya doa ialah keadaan terpaksa/kesulitan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

"Bukankah Dia [Alloh] yang memperkenankan [do’a] orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya..." [QS. an-Naml 62].

Keadaan terpaksa atau kesulitan itu, apabila merasa tidak ada sesuatu yang di harapkan selain semata-mata karunia Allah subhanahu wata'ala, tidak ada yang dapat membantu lagi baik dari luar berupa orang dan benda atau dari dalam diri sendiri.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 6
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 5

5. “TANDA MATA HATI YG BUTA”

5. "Kesungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, di samping kelalaianmu terhadap kewajiban-kewajiban yang di amanatkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu."

Siapa saja yang disibukkan mencari apa yang sudah dijamin Alloh seperti rizki,  dan meninggalkan apa yang menjadi perintah Alloh, itulah tanda orang yang buta hatinya.

Firman Alloh:

"Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak [dapat] membawa [mengurus] rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha mendengar, Maha mengetahui."
[QS. al-Ankabuut 60].

Firman Alloh:

"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat [yang baik di akhirat] adalah bagi orang yang bertakwa.
" [QS. Thaha 132].

Kerjakan apa yang menjadi kewajibanmu terhadap Kami, dan Kami melengkapi bagimu bagian Kamu.

Di sini ada dua perkara :

1. Yang dijamin oleh Alloh, maka jangan menuduh atau berburuk sangka kepada Alloh subhanahu wa ta'ala.

2.Yang dituntut [menjadi kewajiban bagimu] kepada Allah, maka jangan di abaikan.

Dalam sebuah hadits Qudsy yang kurang lebih artinya:

"Hambaku, taatilah semua perintah-Ku, dan jangan memberi tahu kepada-Ku apa yang baik bagimu, [jangan mengajari kepada-Ku apa yang menjadi kebutuhanmu].

Syeih Ibrahim al-Khawwas berkata:

"Jangan memaksa diri untuk mencapai apa yang telah dijamin dan jangan menyia-nyiakan [mengabaikan] apa yang diamanatkan kepadamu."

Oleh sebab itu, barangsiapa yang berusaha untuk mencapai apa yang sudah dijamin dan mengabaikan apa yang menjadi tugas dan kewajiban kepadanya, maka buta mata hatinya dan sangat bodoh.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 5
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 4

4. “Jangan ikut Mengatur”

4."Istirahat/enakkan dirimu/pikiranmu dari kesibukan mengatur dirimu, dari apa-apa yang telah diatur/dijamin oleh selain kamu(yaitu Alloh), tidak perlu engkau ikut sibuk memikirkannya."

Yang di maksud TADBIIR (mengatur diri sendiri) dalam hikmah ini yaitu Tadbir yang tidak di barengi dengan
Tafwiidh (menyerahkan kepada Alloh).

Apabila Tadbir itu dibarengi dengan Tafwidh itu diperbolehkan, bahkan Rosululloh bersabda:

At-tadbiiru nishful ma-‘isyah.
(mengatur apa yang menjadi keperluan itu sebagian dari hasilnya mencari ma’isah/penghidupan).

Hadits ini mengandung anjuran untuk membuat peraturan didalam mencari fadholnya Alloh.

Pengertian Tadbir disini ialah menentukan dan memastikan hasil.

Karena itu semua menjadi aturan Alloh.

Al-hasil, Tadbir yang dilarang yaitu ikut mengatur dan menentukan/memastikan hasilnya.

Sebagai seorang hamba wajib dan harus mengenal kewajiban, sedang jaminan upah ada di tangan majikan, maka tidak usah risau pikiran dan perasaan untuk mengatur, karena kuatir kalau apa yang telah dijamin itu tidak sampai kepadamu atau terlambat, sebab ragu terhadap jaminan Allah tanda lemahnya iman.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 4
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.