Senin, 11 September 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 61

61. "AMAL YANG BERNILAI DISISI ALLOH"

61. ''Tidak ada amal kebaikan yang dapat diharapkan diterima oleh Alloh, melebihi dari amal yang terlupa olehmu adanya dan kecil dalam pandanganmu kejadiannya."

Amal kebaikan yang pasti diterima oleh Alloh, yaitu jika merasa bahwa amal itu semata-mata terjadi karena taufik dan hidayah dari Alloh, kemudian ia tidak membanggakan diri dengan amal itu, dan tidak merasa seakan-akan sudah cukup baik dengan adanya amal itu.

Karena amal itu telah ditujukan kepada keridhoan Alloh, maka tidak usah diingat-ingat lagi.

Sebab barangsiapa yang merasa sudah beramal, sesungguhnya jarang sekali yang tidak merasa ujub/arogan dengan amalnya itu.
Dan itu suatu bahaya bagi amal itu.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 61
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

Sabtu, 02 September 2017

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 59-60

59-60. "DOSA DAN HUSNUD-DHON"

59. "Jangan sampai terasa bagimu besarnya suatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari khusnudz-dzon [baik sangka] terhadap Alloh Ta'ala, sebab barangsiapa yang benar-benar mengenal Alloh Ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping ketulusan kemurahan Alloh."

Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertaubat dan niat untuk tidak mengulanginya untuk selama-selamanya.

Tetapi jika merasa besarnya dosa itu akan menyebabkan putus dari rahmat Alloh, merasa seakan-akan rahmat dan ampunan Alloh tidak akan didapatnya, maka perasaan itu lebih berbahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus asa dari rahmat Alloh itu dosa besar dan itu perasaan orang-orang kafir.

Abdulloh bin Mas'ud rodhiyallohu 'anhu berkata:

"Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan gunung yang akan menimpanya, sedang orang munafiq melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusirlah ia dengan tangannya.

  Nabi s
Shollallohu 'alaihi wasallam telah bersabda:

"Demi Alloh yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Alloh akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar [minta ampun] dan diampunkan bagi mereka itu."

Nabi Shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
"Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin dari pada ujub [mau diagung-agungkan karena amal kebaikannya], maka Alloh tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya."

Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Alloh, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Alloh. Dan ujub, merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah diri di sisi Alloh.

60. "Tidak ada dosa kecil jika Alloh menghadapi engkau dengan keadilan-Nya, dan tidak berarti dosa besar jika Alloh menghadapimu dengan karunia-Nya."

Yang dinamakan Adil yaitu:
Pelaksanaan hukum Alloh didalam kerajan-Nya yang tidak ada yang menentangnya.
Apabila sifat adilnya Alloh itu dilaksanakan pada orang yang di benci Alloh, maka batal semua kebaikannya, dan dosa kecilnya akan menjadi dosa besar.

Yang dinamakan Fadhol yaitu:
Pemberian Alloh kepada hambanya yang tidak ada balasannya.

Apabila sifat Fadholnya Alloh diberikan pada hambanya yang dicintai-Nya, dosa dan kesalahan yang besar akan di anggap kecil oleh Alloh.

Nabi Shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tidak ada dosa besar jika disertai dengan istighfar [minta ampun], dan tidak dapat dianggap dosa kecil jika dikerjakan terus menerus."
Yahya bin Muadz rodhiyallohu 'anhu dalam berdoa ia berkata: "Tuhanku, jika Engkau kasihan kepadaku, Engkau ampunkanlah semua dosaku, tetapi jika Engkau murka kepadaku, tidaklah Engkau terima amal kebaikanku.''

Syeih as-Syadzili ra. berkata dalam do’anya:

Ya robbi,semoga amal jelekku engkau jadikan seperti amal jeleknya orang yang engkau cintai, dan amal kebaikanku jangan engkau jadikan seperti kebaikannya orang yang engkau benci.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 59-60
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 58

58. "TANDA HATI YANG MATI"

58. "Sebagian dari pada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih [susah] karena tertinggalnya suatu amal [perbuatan] kebaikan [kewajiban], juga tidak menyesal jika terjadi berbuat pelanggaran dosa."

Pada Hikmah sebelumnya diterangkan supaya jangan meninggalkan Dzikir walaupun hati belum bisa hadhir ketika berdzikir.

Begitu juga dengan ibadah dan amal kebaikan.

Janganlah meninggalkan ibadah lantaran hati tidak khusyuk ketika beribadah dan jangan meninggalkan amal kebaikan lantaran hati belum ikhlas dalam melakukannya.

Khusyuk dan ikhlas adalah sifat hati yang sempurna.

Dzikir, ibadah dan amal kebaikan adalah cara-cara untuk membentuk hati agar menjadi sempurna.

Hati yang belum mencapai tahap kesempurnaan dikatakan hati itu berpenyakit.

Jika penyakit itu dibiarkan, tidak diambil langkah mengobatinya, pada satu masa, hati itu mungkin akan mati.

Matinya hati berbeda dengan mati tubuh badan.

Orang yang mati tubuh badan ditanam di dalam tanah.

Orang yang mati hatinya, tubuh badannya masih sehat dan dia masih berjalan ke sana kemari dimuka bumi ini.

Manusia menjadi istimewa karena memiliki hati rohani.

Hati mempunyai nilai yang mulia yang tidak dimiliki oleh akal fikiran.

Semua anggota dan akal fikiran menuju kepada alam benda sementara hati rohani menuju kepada Pencipta alam benda.

Hati mempunyai persediaan untuk beriman kepada Tuhan.

Hati yang menghubungkan manusia dengan Pencipta.

Hubungan dengan Pencipta memisahkan manusia dari daerah kehewanan dan mengangkat darjat mereka menjadi makhluk yang mulia.

Hati yang cerdas, sehat dan dalam keasliannya yang murni, berhubung erat dengan Tuhannya.

Hati itu membimbing akal fikiran agar akal fikiran dapat berfikir tentang Tuhan dan makhluk Tuhan.

Hati itu membimbing juga kepada anggota tubuh badan agar mereka tunduk kepada perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Hati yang bisa mengalahkan akal fikiran dan anggota tubuh badannya serta mengarahkan mereka berbuat taat kepada Alloh adalah hati yang sehat.

Dalam suatu hadits Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin."

Abdullah bin Mas'ud rodhiyallohu 'anhu berkata:
''Ketika kami dalam majelis Rosululloh saw, tiba-tiba datang seseorang yang turun dari kudanya dan mendekati Nabi shollallohu 'alaihi wasallam sambil berkata, 'Wahai Rosululloh, saya telah melelahkan kudaku selama sembilan hari, maka saya jalankan terus menerus selama enam hari, tidak tidur diwaktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kuda ini, demi hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yang telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur'.

Nabi shollallohu 'alaihi wasallam bertanya, 'Siapakah engkau? '
Jawab orang itu, 'Zaidul-Khoir'
Berkata Nabi shollallohu 'alaihi wasallam, ' Wahai Zaidul-Khoir, bertanyalah kemungkinan sesuatu yang sulit, yang belum pernah ditanyainya' .
Berkata Zaidul-Khoir, 'Saya akan bertanya kepadamu tanda-tanda orang yang disukai dan yang dimurkai?'
Jawab Nabi shollallohu 'alaihi wasallam, 'Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu saat ini wahai Zaid? '
Jawab Zaid, 'Saya saat ini, suka kepada amal kebaikan dan orang-orang melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin pahalanya'.
Jawab Nabi shollallohu 'alaihi wasallam, 'Ya itulah dia, andaikan Alloh tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yang lain dari pada itu, dan tidak peduli di jurang yang mana engkau akan binasa'.
Berkata Zaid, 'Cukup wahai Rasululloh, lalu ia kembali ke atas kudanya, kemudian ia berangkat pulang'.''

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 58
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.