Minggu, 01 Juli 2018

TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 70-71

TAMAK AKAN MELAHIRKAN KEHINAAN

٭ ﻣﺎَ ﺳَﺒَﻘﺖْ ﺍَﻏْﺼﺎَﻥَ ﺫ ُﻝِّ ِﺍِﻻَّ ﻋﻠﻰ ﺑِﺬْﺭِ ﻃَﻤَﻊٍ ٭

70. "Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, kecuali di atas bibit tamak [kerakusan]."

Sifat tamak bagian dari besarnya aib yang mencela sifat kehambaan,
Sifat tamak [rakus] itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.

Sifat tamak [rakus] itu adalah sumber dari segala penyakit hati, karena tamak itu hanya bergantung pada manusia, minta tolong pada manusia, bersandar pada manusia, mengabdi pada manusia, yang demikian itu temasuk kehinaan, sebab ragu-ragu dengan taqdirnya Alloh.

Abu Bakar al-Warroq al-Hakim berkata:
 "Andaikata sifat tamak itu dapat ditanya, 'Siapakah ayahmu?'
 Pasti jawabnya, 'Ragu terhadap takdir Alloh'.
Dan bila ditanya, 'Apakah pekerjaanmu?'
 Jawabnya, 'Merendahkan diri'.
 Dan bila ditanya, 'Apakah tujuanmu?'
 Jawabnya, 'Tidak dapat apa-apa."

Suatu hikayat mengatakan:
"Ketika Ali bin Abi Tholib Karomalloh wajhah, baru masuk ke masjid Jami' di Basrah, didapatinya banyak orang yang memberi ceramah didalamnya.
 Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yang ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, maka mereka di usir dan tidak diizinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majelis Hasan al-Basri, ia bertanya, 'Wahai para pemuda! Aku akan bertanya kepadamu sesuatu hal, jika engkau dapat menjawab, aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebagaimana teman-temanmu yang lain, telah aku usir itu'.
Jawab Hasan al-Basri, 'Tanyakan sekehendakmu'.
Sayyidina Ali bertanya, 'Apakah yang mengokohkan agama?'
Jawab Hasan, 'Waro' [menjaga diri sendiri untuk menjauhi segala yang bersifat syubhat dan haram].

Lalu Sayyidina Ali bertanya lagi, 'Apakah yang dapat merusak agama?'
Jawab Hasan, 'Tamak [rakus]'.

Imam Ali berkata kepadanya, 'Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang seperti engkaulah yang dapat memberi ceramah kepada publik'."

Seorang guru berkata:
 "Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seorang yang mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak akan menerima uangku ini, tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi, 'Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk'."

 Waro' dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Alloh.
 Waro' yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Alloh Ta'ala.

Sahl bin Abdullah berkata:
 "Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, karena itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman."

Semua hamba pasti akan makan rezeki-Nya, hanya berbeda-beda, ada yang makan dengan kehinaan, yaitu peminta-minta.
 Ada yang makan rezeki-Nya dengan bekerja keras, yaitu para buruh, ada yang makan rezeki-Nya dengan cara menunggu, yaitu para pedagang yang menunggu sampai adanya membeli barang-barangnya.
Adapun yang makan rezeki-Nya dengan rasa mulia, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan.

٭ ﻣﺎَ ﻗﺎَﺩَﻙَ ﺷﻰﺀٌ ﻣﺜـﻞ ﺍﻟﻮَﻫْﻢِ ٭

71. "Tiada sesuatu yang dapat menuntun/memimpin engkau (pada kehinaan)seperti angan-angan [bayangan yang kosong]."

Wahm: Ialah tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Alloh, yang berarti angan-angan yang tidak mungkin terjadi.
 Dan biasanya nafsu itu lebih tunduk pada wahm/ angan-angan, dari pada pada akalnya.

 Sebagai contoh:
 manusia itu biasanya lari apabila melihat ular, karena dia berangan-angan ular itu akan menggigit dirinya.
Apabila dia(nafsunya) tunduk pada akalnya, tentu dia tidak lari.

Karena apa-apa yang sudah ditentukan Alloh pasti wujud, dan sebaliknya.

Ingatlah tidak ada orang yang bisa selamat dari sifat tamak,kecuali orang yang khusus yaitu orang-orang yang ahli Qona’ah dan berserah diri pada Alloh, yang hatinya sama sekali tidak bergantung pada makhluk(manusia).
TERJEMAH ALHIKAM HIKMAH 70-71
Ibnu 'Atho'illah asSyakandary ra.